Home / Maluku / Dekranasda Maluku Siapkan Produk Unggulan 11 Kabupaten/Kota Tembus Pasar Global

Dekranasda Maluku Siapkan Produk Unggulan 11 Kabupaten/Kota Tembus Pasar Global

JAKARTA, GERBANGMALUKU.COM Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Maluku memperkuat langkah strategis untuk mengangkat produk unggulan dan kekayaan budaya daerah agar semakin dikenal, memiliki nilai ekonomi tinggi, serta mampu bersaing di pasar nasional hingga global.

Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Badan Penghubung Provinsi bersama Dekranasda se-Provinsi Maluku Tahun 2026, yang berlangsung di Anjungan Maluku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (28/9/2026).

Ketua Dekranasda Provinsi Maluku, Maya Baby Lewerissa, mengatakan rapat koordinasi tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan visi dan langkah seluruh pihak dalam mengembangkan potensi daerah.

Menurut Maya, Maluku memiliki kekayaan yang sangat besar, bukan hanya dari sumber daya alam, tetapi juga dari warisan budaya, tradisi, seni, kuliner, tenun, kerajinan dan kreativitas masyarakat yang tersebar di 11 kabupaten/kota.

Potensi tersebut, kata dia, perlu dikelola secara lebih profesional agar tidak berhenti sebagai kekayaan lokal, tetapi mampu berkembang menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing.

“Forum ini menjadi momentum untuk menyatukan langkah dalam mengangkat potensi Maluku menuju pasar nasional dan global. Mari kita satukan kekuatan untuk mengangkat produk dan budaya Maluku. Dari Maluku untuk Indonesia, dari Maluku menuju pasar global,” ujar Maya.

Maya menegaskan, pengembangan produk unggulan Maluku harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kualitas produk hingga strategi pemasaran.

Dekranasda Maluku mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif dan industri kerajinan melalui kurasi produk, penguatan database pelaku IKM/UMKM, peningkatan kualitas dan kemasan, penguatan branding, serta digitalisasi pemasaran.

Langkah tersebut dinilai penting agar produk Maluku tidak hanya memiliki keunikan dan nilai budaya, tetapi juga memenuhi standar pasar dan mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

Identitas Maluku juga menjadi salah satu kekuatan yang akan terus ditonjolkan dalam pengembangan produk.

Kekayaan budaya daerah diharapkan dapat menjadi bagian dari storytelling produk sehingga konsumen tidak hanya membeli sebuah barang, tetapi juga mengenal cerita, nilai dan identitas yang melekat di dalamnya.

Maya juga melihat keberadaan Anjungan Maluku di TMII memiliki posisi strategis untuk dikembangkan sebagai pusat promosi produk IKM dan UMKM sekaligus etalase kebudayaan Maluku di Jakarta.

Anjungan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang interaksi bagi masyarakat untuk mengenal berbagai produk unggulan dari Maluku.

“Anjungan Maluku perlu kita optimalkan sebagai ruang untuk melihat, mengenal, merasakan dan membeli produk Maluku, sekaligus mendorong minat berinvestasi dan berwisata ke Maluku,” katanya.

Dengan optimalisasi tersebut, Anjungan Maluku diharapkan tidak hanya menjadi ruang representasi budaya, tetapi juga dapat berfungsi sebagai salah satu pintu promosi ekonomi kreatif, investasi dan pariwisata daerah.

Sebagai langkah konkret, Dekranasda Maluku menyiapkan program prioritas “Satu Kabupaten/Kota, Satu Produk Unggulan Prioritas” yang ditargetkan mulai dikembangkan pada 2027.

Program ini diarahkan untuk menghadirkan produk unggulan yang benar-benar memiliki karakter dan keunggulan dari masing-masing 11 kabupaten/kota di Maluku.

Produk yang dipilih nantinya akan melalui proses kurasi, peningkatan kualitas, perbaikan kemasan, penguatan merek dan branding sebelum dipromosikan ke pasar yang lebih luas.

Selanjutnya, produk-produk tersebut akan dipromosikan melalui berbagai ajang nasional maupun internasional dalam satu payung “Branding Maluku.”

Konsep tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas produk Maluku sekaligus memudahkan promosi secara terpadu.

Dekranasda Maluku juga mendorong pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian penting dari strategi pemasaran.

Promosi akan didukung melalui katalog digital, marketplace, media sosial, storytelling, fotografi produk hingga transaksi digital.

Strategi tersebut menjadi penting mengingat kondisi geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan yang memiliki tantangan dalam distribusi dan akses pasar.

Melalui kanal digital, produk dari berbagai daerah di Maluku dapat diperkenalkan kepada konsumen di berbagai wilayah Indonesia, bahkan berpeluang menjangkau pasar internasional.

Digitalisasi juga diharapkan dapat membuka ruang lebih besar bagi pelaku IKM dan UMKM untuk membangun merek sendiri serta berinteraksi langsung dengan pasar.

Maya menekankan, pengembangan produk unggulan tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar setiap program dapat berjalan secara terarah dan memberikan dampak nyata.

Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah, Dekranasda, perangkat daerah, Badan Penghubung, pelaku usaha, perbankan, perguruan tinggi, komunitas, media dan dunia usaha.

Menurutnya, sinergi antarpihak diperlukan mulai dari proses produksi, peningkatan kapasitas pelaku usaha, pembiayaan, pengemasan, promosi hingga perluasan pasar.

Dengan kolaborasi yang kuat, pengembangan IKM dan UMKM diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang lebih berkualitas, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Selain pengembangan produk, Maya menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi kreatif, pariwisata dan investasi.

Kekayaan budaya Maluku dinilai dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun daya tarik daerah, baik melalui produk kerajinan maupun destinasi wisata dan berbagai ekspresi seni budaya.

Karena itu, pengembangan ekonomi kreatif diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang menghubungkan produk lokal dengan pariwisata serta peluang investasi.

“Dengan semangat Lawamena, kita wujudkan Maluku yang maju, adil dan sejahtera melalui ekonomi kreatif, industri kerajinan, pariwisata dan budaya,” pungkas Maya.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif RI Neli Yana, Pimpinan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Direktur Utama PT Bank Maluku Malut, Operation Director TMII, para Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota se-Maluku, pimpinan perangkat daerah, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, Kepala UPTD Taman Budaya, Kepala Museum Siwalima, serta Ketua dan Sekjen FORKAPSI.

Melalui forum tersebut, Dekranasda Maluku menegaskan komitmennya untuk menjadikan kekayaan produk dan budaya daerah sebagai kekuatan ekonomi baru, sekaligus membawa identitas Maluku semakin dikenal dari tingkat nasional hingga panggung global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.