Ambon, gerbangmaluku.com Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Provinsi Maluku tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan daerah sekaligus memperkuat tekad menentukan arah pembangunan Maluku ke depan.
Pesan itu disampaikan Lewerissa saat memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 Provinsi Maluku yang berlangsung di Lapangan Merdeka Ambon, Rabu (7/10/2026), pukul 08.00 WIT.
Upacara tersebut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Maluku dan Kota Ambon, serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Lewerissa mengajak seluruh masyarakat Maluku memaknai perjalanan daerah dengan tiga sikap utama, yakni menghormati sejarah, bertanggung jawab terhadap kondisi hari ini, serta berani menatap masa depan.
“Ketika memperingati HUT Provinsi Maluku, kita tidak boleh berhenti. Hari ulang tahun harus menjadi momentum untuk melihat ke belakang dengan rasa hormat, melihat hari ini dengan penuh tanggung jawab dan menatap masa depan dengan keberanian,” kata Lewerissa.
Mengusung tema “Maluku Bersatu, Maju Membangun Negeri”, Gubernur menyebut tema tersebut memiliki tiga pesan besar yang harus menjadi pijakan bersama dalam membangun daerah.
Pesan pertama, kata Lewerissa, adalah persatuan.
Menurutnya, Maluku merupakan daerah yang dibangun di atas keberagaman pulau, negeri, desa adat, budaya dan tradisi. Namun seluruh keberagaman tersebut berada dalam satu rumah besar, yakni Maluku, sekaligus dalam satu identitas kebangsaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk terpecah, tetapi harus menjadi kekuatan untuk membangun daerah.
“Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Perbedaan harus menjadi kekuatan. Semangat pela gandong, ikatan Siwalima dan hidup orang basudara harus terus kita hidupkan, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi sebagai modal sosial untuk membangun masa depan kita,” tegasnya.
Pesan kedua adalah menjadikan Maluku sebagai provinsi yang maju, produktif dan sejahtera.
Lewerissa menilai Maluku tidak boleh hanya dikenal karena keindahan alam, kekayaan sumber daya alam maupun sejarah perjuangannya. Potensi tersebut harus diolah dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan, lanjutnya, harus diarahkan pada transformasi ekonomi dengan memperkuat sektor kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, industri pengolahan, UMKM hingga ekonomi kreatif.
“Kekayaan alam Maluku tidak boleh hanya menjadi angka dalam statistik. Kekayaan Maluku harus berubah menjadi kesejahteraan bagi rakyat Maluku,” ujarnya.
Dalam konteks itu, ia menekankan pentingnya mengawal berbagai agenda dan program strategis nasional yang berkaitan dengan Maluku agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur, kata Lewerissa, juga harus berjalan seiring dengan pembangunan manusia. Peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, keterampilan, karakter, inovasi dan kapasitas generasi muda harus menjadi perhatian utama.
Generasi muda Maluku, menurutnya, harus ditempatkan sebagai pelaku sekaligus penggerak pembangunan, bukan sekadar menjadi penonton.
Pesan ketiga yang disampaikan Lewerissa adalah pentingnya kolaborasi.
Ia menegaskan bahwa membangun Maluku bukan semata-mata tugas pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan DPRD, dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, media dan seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, ia meminta jajaran pemerintahan memperkuat kerja sama dan meninggalkan ego sektoral dalam menjalankan berbagai program pembangunan.
“Tidak boleh ada kepentingan kelompok yang lebih besar daripada kepentingan rakyat. Pemerintah harus hadir dengan pelayanan yang cepat, bersih, transparan dan berpihak kepada masyarakat,” tegasnya.
Lewerissa mengakui perjalanan pembangunan Maluku ke depan bukan pekerjaan mudah. Sejumlah persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan antarwilayah, keterbatasan konektivitas, kapasitas fiskal dan berbagai tantangan pembangunan lainnya masih membutuhkan perhatian serius.
Namun, ia optimistis Maluku memiliki modal sosial yang jauh lebih besar, yakni kekuatan persaudaraan, semangat hidup orang basudara serta ketangguhan masyarakatnya.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan penghargaan kepada para pendahulu, mantan gubernur dan wakil gubernur, para kepala daerah, jajaran pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dunia usaha, pemuda, perempuan, insan pers serta seluruh rakyat Maluku yang telah memberikan pengabdian bagi daerah.
“Apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan dari generasi sebelumnya dan apa yang kita kerjakan hari ini akan menjadi warisan bagi generasi sesudah kita. Karena itu jangan sampai generasi kita hanya dikenal sebagai generasi yang menikmati Maluku, maka jadilah generasi yang meninggalkan sesuatu untuk Maluku,” ucapnya.
Menutup sambutannya, Lewerissa mengajak seluruh anak negeri untuk menyatukan langkah, kekuatan dan potensi dalam membangun Maluku dari berbagai wilayah.
Mulai dari Buru, Seram, Tanimbar, Banda, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya hingga Kota Ambon, seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk membawa Maluku menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
“Di usia 81 ini, mari kita satukan langkah, mari kita satukan kekuatan, mari kita satukan seluruh potensi anak negeri. Katong semua punya tanggung jawab yang sama untuk membangun negeri ini,” pungkas Lewerissa.















